Minggu, 21 April 2013

Bab 1 : Deg Deg Serrr!

Malang, April 1996
Pagi ini adalah hari pertama bagi Juli merasakan menjadi anak SMA. Namun keringat dingin makin bercucuran deras ketika dia melihat bahwa anak - anak yang lain perlahan lahan memasuki halaman sekolah dengan mengenakan seragam putih biru, ciri khas pakaian SMP Negeri.

"Mati! Salah kostum!" Batin Juli cemas. Seragam berwarna putih kusam dan celana nanggung berwarna cokelat terlanjur dikenakan. Emblem bertuliskan Cor Jesu dengan simbol salib  mendominasi desain di saku dada seragam. "Semoga diriku tidak dicap sebagai pastur nyasar" harap Juli sambil menutupi emblem itu dengan tasnya.

Juli sebelumnya memang mengenyam pendidikan di sekolah katolik sejak TK, walaupun dia seorang Muslim. Telah menjadi tradisi dari keluarganya bahwa "image" pendidikan ideal di masa itu adalah masuk ke sekolah Katolik untuk mendapatkan kualitas edukasi dan belajar disiplin.

Seorang petugas dengan wajah ramah mengayunkan tangannya menunjuk ke arah lorong panjang. Seakan mengarahkan rombongan siswa SMP ini ke area misterius.
Desain bangunan sekolah yang sudah ada sejak Belanda ini menambah nuansa kecemasan.
Lorong gelap itu ternyata mengajak langkah kaki Juli pelan -pelan ke tempat yang lebih terang, sebuah lapangan olah raga basket dan voli. Kerumunan tampang polos siswa SMP mendominasi area tersebut.
Tampak kakak kelas berseragam putih abu -abu mengatur lalu lalang mereka.

Secara natural, anak -anak itu bergerombol sesuai sekolah masing -masing. Bak acara reuni temu kangen, saling memeluk sambil mengucapkan selamat. Tak sedikit wajah - wajah bangga terlihat di senyuman mereka. Bangga karena mereka bisa masuk di SMA prestisius, SMA Negeri 3 Malang.
Sudah menjadi tradisi SMAN tersebut dipenuhi oleh alumni dari SMPN 3 dan SMPN 1. Dua SMP unggulan di kota Malang. Sedangkan Juli dari SMPK Cor Jesu bak orang asing nyasar di sebuah sekolahan.

Clingak clinguk kepala Juli, sibuk mencari seseorang. "Mana nih si Indro?" batin Juli berharap segera menemukan teman SMPnya. Indro merupakan satu -satunya harapan untuk menemani rasa kekikukan Juli menghadapi dunia asing ini.

"Mohon berbaris rapi" ucap seseorang melalui corong toak jinjing secara mendadak. "Ah! Apakah kengerian ini akan dimulai?" Pikir Juli sambil was was. Maklum, kabar miring sudah sering terdengar dimana peristiwa penggojlokan ala militer wajib dialami bagi siswa yang akan masuk ke sebuah SMA Negeri, isunya lebih kejam daripada SMA Swasta.
Juli semakin teringat khotbah dari kakaknya tentang kerasnya kegiatan penataran sekolah selama 3 hari itu. Mulai mudahnya mendapatkan gertakan tentang peristiwa sepele hingga hukuman fisik dimana jika ada peserta pingsan menjadi sebuah prestasi. Entahlah apakah itu penjelasan fakta atau sekedar untuk menakut-nakuti, yang pasti jantung Juli sudah mulai komat kamit.

“Ayo, cepat!” hardik kakak kelas yang lain, membuat suasana tegang makin terasa. Tampang para panitia yang awalnya biasa - biasa saja, pelan - pelan mulai dipermak menjadi serius tegas, bak tampang tentara berbaju SMA. 

Juli dengan seragam paling berbeda diantara yang lain menjadi salah satu pusat perhatian para panitia, apalagi didukung dengan badan yang jangkung namun kurus bak tiang listrik seakan menonjol dari ukuran tinggi rata - rata peserta perploncoan, tampak ideal untuk dijadikan mangsa di”bully”.

“Aku harus berbuat sesuatu!” Jerit Juli dalam hati sambil mencari akal agar tidak masuk dalam radar kakak panitia. Spontan saja mimik dan gerak gerik Juli berubah memelas sambil menunduk lesu, berharap orang di sekelilingnya menjadi iba. Gerakan loyo kurang tenaga mengiringi laju langkah kecil Juli mengikuti arahan pengaturan murid - murid SMP diselingi gertakan - gertakan kecil dari kakak kelas seakan mempercepat proses penataan 300 an murid baru untuk membentuk barisan rapi menghadap ke sebuah mimbar kecil.
Akting Juli yang memelas sepertinya ampuh. Mata siap menerkam dari kakak kelasnya tidak terlalu berminat untuk mengincar tiang listrik hidup nan lunglai itu. 

Bunyi feedback nyaring dari megaphone seketika terdengar, semacam tanda bahwa pidato pembukaan segera dimulai. Tampak bapak berumur 30-an tahun dengan wajah sumringah berdiri di mimbar sambil menyambut selamat datang lewat ucapan - ucapannya di depan siswa - siswa ex SMP yang sedang duduk bersila di atas semen lapangan voli.

Si Bapak itu bernama Pak Sadi, mengakunya sebagai guru olah raga. Kata - kata sambutannya cukup membuat rasa tegang Juli dan anak - anak sepantarannya lumayan reda, seolah dia berhasil mengajak rileks otot - otot yang kaku di kepala akibat setress. Sedikit canda ala stand up komedian lumayan bikin cair suasana. 

Sayang, pidato Pak Sadi bagaikan commercial break acara TV, cukup menghibur tapi sebentar. Wajah gelisah mulai terlukis di wajah - wajah calon pengguna seragam putih abu-abu ini. Megaphone dioper dari Pak Sadi ke seorang kakak kelas berparas kemenyek*.

Dengan gaya sok judes, si kakak kelas ini menjelaskan rules of the game dari acara yang sedang Juli dan anak eks SMP lainnya ikuti. Acara berdurasi 3 hari ini bernama Penataran P4, alias Pedoman, Penghayatan dan Pengamalan Pancasila. Mitos yang sering didengar oleh Juli adalah Penataran P4 hanyalah ajang “ngerjain” adik kelas dengan cara aneh - aneh menjurus kasar dalam beberapa hari yang dilakukan oleh senior berkedok balas dendam. Banyak korban tahun sebelumnya berlomba - lomba menjadi panitia hanya untuk melampiaskan peristiwa konyol yang pernah dialami. Mitos ini sudah turun temurun terlaksana sejak Juli belum lahir. Saatnya sekarang Juli membuktikan apakah peristiwa ini benar mitos atau sebuah kenyataan.

Peraturan dalam Penataran P4 kali ini cukup simpel. Masing - masing anak mendapatkan semacam kartu dengan tabel kosong. Permainannya adalah setiap orang harus memenuhi tabel tersebut dengan tanda tangan para kakak panitia. Untuk mendapatkan tanda tangan tersebut, peserta harus memenuhi dan menuruti permintaan yang berbeda dari setiap panitia. Beragam permintaan nyleneh bermunculan, mulai dari bernyanyi lagu daerah dengan huruf vokal E semua, merayu panitia, mengarang puisi spontan hingga latihan fisik seperti push up dan skot jump.

Juli sadar, menjadi murid pengguna seragam paling beda sangat berpotensi untuk mendapatkan tantangan lebih berat yang diberikan oleh panitia. Juli harus jeli melihat peluang yang ada. 
Bermain aman dengan mencari kakak panitia yang memang baik menjadi pilihan strateginya. Didukung dengan akting sok memelas, loyo dan tidak bergairah berharap kakak panitia iba dan memberikan tanda tangannya tanpa syarat. 

Tampaknya strategi itu berhasil. Dua tanda tangan didapat dari kakak panitia yang memang baik hati. Walau dengan susah payah mengantri namun itu lebih baik daripada tidak ada sama sekali torehan di tabel. Sementara yang lain berlomba - lomba memenuhi daftar tanda tangan, Juli memilih bermain aman dan kalem. 

Tiba - tiba suara amukan protes dari remaja pria terdengar. Tolehan kepala sebagian besar peserta mendadak berjamaah mengarah ke pemilik suara lantang itu. Tampak sosok remaja berbadan besar dan kekar didukung dengan potongan rambut ala tentara. Badannya kira - kira setinggi 180 cm. Berpakaian seragam putih cokelat dengan emblem salib di kantong bajunya, remaja itu seolah tidak takut menghadapi kerumuman kakak kelas di sekitarnya. Gelagatnya seperti siap bertarung.

“Ah! Itu Indro!” Batin Juli senang tercampur rasa penasaran. “Akhirnya aku bisa menemukan dia dari kejauhan”. “Tetapi sepertinya dia dalam masalah, atau jangan - jangan memang mencari masalah?” gumam Juli sambil menganalisa kejadian heboh itu.

Bisik - bisik terdengar di sana - sini. Membicarakan peristiwa apa yang akan terjadi dari kejauhan sana.  Kakak panitia yang mengepung Indro seolah sudah siap melakukan tindakan menghadapi protesnya. Seolah menunggu komando untuk mengeroyok Indro.


“Wah bisa bahaya nih anak ingusan itu kalau ketemu dengan Ambo!” Celoteh salah seorang panitia Penataran P4 di sebelahnya Juli. “Ambo? Siapa lagi itu?” Jangan - jangan penguasa di sekolah SMA 3 ?” 

Bak suasana film Hollywood, pelan - pelan muncul sosok misterius dari belakang rombongan yang ingin mengeroyok Indro. Badannya lebih tinggi, sekitar 185-an cm. Berkulit gelap eksotis dengan rambut keriting, tampak sekali bahwa dia seakan berasal dari luar Jawa. Entah mengapa, Juli pun mendadak ngeri melihat sosok misterius itu. 

Baju seragamnya sengaja dikeluarkan, seolah tidak peduli dengan peraturan sekolah dimana tepi baju seyogyanya dimasukkan ke dalam celana. Pandangan tajam tanpa banyak bicara, membuat raut muka Indro yang awalnya percaya diri menjadi keder.

Tanpa banyak basa - basi, tangan Ambo mengambil kerah baju Indro, menggiringnya ke sebuah ruangan. Tidak ada perlawanan sama sekali dari Indro, seakan aura yang dimunculkan Ambo bagaikan mantra.

Diiringi gerombolan kakak kelas, Ambo membawa Indro mendarat ke Ruang Unit Kesehatan Sekolah (UKS) yang dekat dari tempat lapangan basket. “Jedarr!” Pintu UKS sengaja ditutup dengan paksa. “Jangan sampai kalian juga masuk ke ruangan UKS!” Teriak kakak panitia yang lain menakut - nakuti peserta Penataran P4.
Terdengar bunyi gaduh di dalam ruangan UKS. Suara - suara seperti membanting benda - benda keras jelas berkumandang, membuat Juli makin mantap untuk terus kepada rencana awal, play save, stay cool and kalem.

Di sisi lain, Juli menjadi diajak penasaran dengan sikap temannya yang bernama Indro itu. Bagaimana bisa jagoan nomer wahid dari SMPK Cor Jesu itu langsung tiarap hanya dengan tatapan mata. Ketika kelas 3 SMP, Indro adalah pendatang dari Jakarta. Kepindahannya ke Malang adalah dampak dari profesi bapaknya seorang ABRI yang harus siap ditugaskan dimana saja.
Karakternya supel dan berani karena didukung bodi ala militer. Secara cepat dia dapat bergaul dengan siapa saja. Prestasi terbesarnya adalah ketika dia berani menantang berkelahi anggota geng kelam di SMP-nya. Pohon beringin di dekat lapangan bola menjadi markas geng kelam, dan hanya dalam 2 bulan beradaptasi di sekolah barunya, Indro bisa menguasai markas tersebut serta dinobatkan sebagai ketua baru. Fantastis!


Pada akhirnya peristiwa di ruangan UKS menjadi sinyal baru bagi Juli (mungkin juga untuk seluruh murid kelas 1 ), bahwa ada sosok yang wajib disegani dan ditakuti di SMAN 3 Malang ini yaitu Ambo! Namun, firasat Juli juga mengatakan bahwa kelak si Indro suatu saat juga akan merebut tahta yang dijabat oleh Ambo. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar